TENTANG PJJ APTIKOM

LATAR BELAKANG

Dalam rangka membantu pemerintah meningkatkan kualitas dan jumlah dosen berkualifikasi S2 di Indonesia, Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) bekerja sama dengan Universitas AMIKOM Yogyakarta dan Dirjen Dikti -Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia membuka kesempatan bagi para dosen rumpun Ilmu Informatika dan Komputer yang masih berlatar belakang S1 untuk mengikuti Program S2 Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Konsorsium APTIKOM-AMIKOM.

Mengacu kepada UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Kepmendiknas No. 47 Tahun 2009 tentang sertifikasi pendidik untuk Dosen maka syarat minimum dosen untuk program diploma dan sarjana minimum berpendidikan minimum: lulusan Program Magister (S2). Program PJJ ini penting bagi dosen Informatika dengan alasan sebagai berikut:

  1. Masih ribuan dosen aktif informatika dan komputer masih berpendidikan S1;
  2. Untuk meningkatkan kompetensi dosen pada tahun 2016;
  3. Untuk memperbaiki kualitas dosen; dan
  4. Memenuhi syarat minimal pendidikan dosen

Mahasiswa lulusan program ini diharapkan memiliki kompetensi utama dalam hal mengembangkan berbagai sistem berbasis teknologi informasi dan komunikasi sesuai dengan standar kualitas yang berlaku secara internasional.

KONSEP DAN MEKANISME PEMBELAJARAN DALAM PJJ

Pada pelaksanaan Program S2 PJJ Konsorsium APTIKOM-AMIKOM, para mahasiswa harus mengadopsi paradigma dan mekanisme pembelajaran jarak jauh dengan prinsip-prinsip utama sebagai berikut:

  • Mahasiswa hendaknya aktif melakukan proses pembelajaran mandiri melalui beraneka ragam cara yang tersedia dan memungkinkan, yaitu:
    1. menggunakan referensi yang tersedia;
    2. memanfaatkan berbagai sumber yang dapat diakses via internet;
    3. melakukan komunikasi intensif antar sesama mahasiswa;
    4. mengerjakan seluruh latihan dan tugas-tugas yang diberikan;
    5. menghadiri sesi temu virtual dengan dosen pengampu matakuliah; dan
    6. mengikuti ujian terjadwal yang telah ditetapkan.

Paradigma pembelajaran e-Learning adalah aktif dan mandiri, di mana keberhasilan mahasiswa akan ditentukan oleh intensitas pembelajaran yang dilakukannya
sendiri, bukan bergantung pada pihak lain sebagaimana model perkuliahan konvensional berbasis tatap muka.

  • Mengingat bahwa capaian pembelajaran mahasiswa (standar kompetensi kelulusan) peserta program pendidikan jarak jauh harus sama dengan model pembelajaran berbasis tatap muka, maka model evaluasi atau penilaiannya akan jauh lebih ketat dan bersifat multi dimensi. Dalam penyelenggaraan matakuliah PJJ, dosen pengampu menilai mahasiswa dengan menggunakan berbagai instrumen dan indikator sebagai berikut:
    1. keaktifan dalam mengikuti forum diskusi;
    2. keteraturan atau frekuensi dalam melakukan akses terhadap sumber daya pendidikan yang tersedia pada aplikasi Learning Management System (LMS)
      yang dipakai;
    3. kuantitas kehadiran dan kualitas interaksi dalam sesi sistem yang dipakai;
    4. kuantitas kehadiran dan kualitas interaksi dalam sesi komunikasi virtual dengan dosen, baik yang bersifat sinkronus maupun asinkronus;
    5. kelengkapan pengumpulan tugas yang diberikan;
    6. partisipasi aktif mengerjakan soal-soal latihan; dan
    7. hasil ujian tengah semester/kuis maupun ujian akhir semester.

Keseluruhan kinerja mahasiswa melalui beragam model interaksi tersebut dijadikan sebagai bahan evaluasi dosen dalam memberikan penilaian akhir pencapaian
mahasiswa dalam mata kuliah yang bersangkutan. Perlu diperhatikan bahwa bobot keseluruhan model interaksi dan evaluasi tersebut kurang lebih sama karena
sifatnya yang holistik.